Sekolah ke Jepang (2)

September 4, 2008

Pada begian kedua ini penulis akan menyampaikan dua subjudul yang merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Dua subjudul di bawah ini berkaitan dengan kiat-kiat hidup selama studi di Jepang dan mencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Kiat-kiat hidup

Biaya hidup, mungkin bagian yang paling menjadi pertanyaan bagi calon mahasiswa Indonesia di Jepang. Untuk lulusan SMA yang ingin mengambil program S1 di Jepang, beasiswa dari Indonesia tak begitu banyak seperti dari Monbusho maupun perusahaan Jepang walau sangat terbatas. Untuk program S2 dan S3, kondisinya sama saja, hanya ada kemungkinan mendapatkan sponsor yang diusahakan oleh Professor pembimbing. Namun bila Anda beruntung memiliki cukup uang sebagai modal awal serta “keberanian”, rasanya peluang untuk merasakan pendidikan tinggi di Jepang bukan hal mustahil. Penulis menyaksikan, ribuan mahasiswa Cina hanya dengan modal itu, setiap tahun membanjiri universitas-universitas di Jepang.

Modal awal ini diperlukan untuk biaya hidup di tahun awal. Selanjutnya, kita dapat berkompetisi mendapatkan beasiswa dari perusahaan Jepang yang sangat banyak namun hanya dapat didaftar ketika sudah di Jepang. Beasiswa itu bermacam-macam, ada yang spesifik untuk bidang tertentu misalnya untuk mahasiswa jurusan Kimia karena dari perusahaan penghasil alat laboratorium kimia ataupun untuk mahasiswa asing dari negara tertentu karena perusahaan itu memiliki cabang di negara tersebut.

Menurut pengamatan penulis ketika menjadi Ketua Bidang Ilmiah-Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang, dari segi prestasi, mahasiswa Indonesia tidak kalah dari mahasiswa asing lainnya, selain itu karena jumlahnya relatif masih sedikit, peluang mendapatkan beasiswa semacam ini cukup besar. Bila biaya hidup besarnya diperkirakan kurang lebih 80 ribu yen per-bulan, maka minimal modal yang dipersiapkan cukup untuk 1-2 tahun plus biaya sekolah. Masih terasa besar bagi kebanyakan rakyat Indonesia, tapi bila dihitung dari hasil yang kelak diperoleh selepas studi, misal kesempatan kerja di Jepang (lulusan S1, minimal mengantongi gaji 150 ribu yen/bulan masih ditambah bonus), jumlah ini bukan menakutkan bila dibarengi oleh “keberanian” dan tentu saja usaha keras.

Tidak seperti di Jerman misalnya, biaya sekolah di Jepang bukan gratis. Ada SPP per-semester, selain juga “uang masuk” untuk program S1 maupun S2 yang digabung dengan S3 (artinya kalau melanjutkan ke S3 dari S2 di Universitas yang sama, tidak perlu membayar lagi). Akan tetapi, bagi mahasiswa berprestasi dengan kondisi keuangan tak mencukupi, bagi universitas negeri, terbuka peluang besar mendapatkan keringanan SPP sebesar 50% atau 100%. Bagi universitas swasta, ada juga keringanan tapi tak sebesar itu.

Untuk menutupi biaya hidup ini, Pemerintah Jepang juga memperbolehkan mahasiswa asing bekerja sambilan dalam waktu yang ditentukan. Pekerjaan-pekerjaan yang sering digolongkan “kasar” oleh orang Jepang seperti mencuci piring di restoran, mengangkat barang dalam kegiatan pameran, mengatur arus lalu lintas dalam pekerjaan jalan, dan sebagainya, bisa diperoleh tanpa keterampilan khusus serta kemampuan bahasa. Pekerjaan seperti ini hampir tersedia di seluruh wilayah Jepang. Sementara itu, bila ada kemampuan khusus seperti pemrograman komputer, kemahiran bahasa Jepang untuk menjadi penerjemah, gaji pun akan meningkat tajam walaupun kadang lowongan kerja seperti ini hanya tersedia di kota-kota besar. Akan tetapi intinya, kalau kita bersedia kerja keras dan bersimbah berkeringat, masalah dana bukan hal besar yang bisa menghambat tekad belajar itu.

Selain masalah dana, adaptasi terhadap kehidupan Jepang tak jarang menjadi kendala kelancaran studi. Masyarakat Jepang secara umum sangat respek terhadap mahasiswa asing baik dalam kebudayaan maupun kepercayaan yang dibawanya. Dengan menjelaskan bahwa sebagai Muslim, kita tidak meminum alkohol atau memakan makanan haram, penulis sering menemukan Professor maupun Universitas bersedia menyediakan menu sendiri dalam pertemuan umum yang lazim menghidangkan makanan seperti itu. Bahkan tak jarang, kita diingatkan akan kepercayaan kita sendiri seperti mematuhi larangan agama, ibadah dan sebagainya.

Akan tetapi, kita dituntut pula untuk mengikuti tata tertib masyarakat Jepang. Seperti pepatah Indonesia, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, masyarakat Jepang memiliki peribahasa yang serupa. Tata tertib seperti tepat waktu, menjaga kebersihan, kedisiplinan serta kejujuran itu justru akan membawa kebaikan kepada mahasiswa Indonesia sendiri nantinya.

Tak kalah penting, adalah menjaga silaturahim dengan sesama orang Indonesia. Sudah menjadi sunatan takdir, orang asing di perantauan menjadi kesepian dan ingin teman sebangsa untuk membagi keluh-kesah, pahit-getir pengalaman keseharian. Keberadaan pertemuan komunitas orang Indonesia di Jepang sudah sangat banyak, juga pertemuan internet melalui mailing list. Hal itu bila dimanfaatkan akan dapat menghilangkan stress dan proses adaptasi.

Mencari kerja

Setelah sukses menyelesaikan studi, tahapan mencari kerja menjadi penting bagi seorang mahasiswa. Seperti disinggung di bagian pertama, peluang kerja di Indonesia, sangat terbuka. Kemampuan bahasa, pengalaman hidup berinteraksi dengan masyarakat Jepang serta bekal akademis dan ketrampilan pada bidangnya, akan menjadi bekal besar yang bermanfaat. Sementara itu, mencari pekerjaan di Jepang sendiri bukanlah hal yang terlalu sulit. Faktor ikatan yang kuat antara Professor pembimbing dan mahasiswanya, sangat membantu dalam usaha mencari kerja.

Sudah menjadi kebiasaan, rekomendasi Professor sangat berpengaruh dalam mencari kerja di perusahaan. Biasanya, setahun sebelum lulus, mahasiswa di Universitas Jepang sudah mulai mencari kerja. Aktivitas ini didukung penuh oleh Universitas yang ikut mencarikan lowongan serta Professor pembimbing dengan memberikan rekomendasi dan lain-lain. Sehingga begitu selesai di bulan Maret, April bulan berikutnya rata-rata mahasiswa sudah memiliki tempat bekerja. Mungkin agak unik kondisi di perusahaan Jepang, bila Anda berniat bekerja di perusahaan swasta, pendidikan S1 maupun S2 sudah cukup, tak perlu sampai S3.

Bila Anda mahasiswa S3, maka pekerjaan-pekerjaan yang bersifat spesifik sesuai dengan keahlian, menanti Anda baik di lembaga penelitian swasta, pemerintah, universitas dan sebagainya. Walaupun lowongan untuk perusahaan swasta relatif kecil dibanding jenjang akademik yang lebih rendah, tapi di universitas atau lembaga penelitian pemerintah, peluang cukup besar. Biasanya pekerjaan sebagai peneliti ini bersifat kontrak namun dapat diperpanjang atau menjadi pijakan untuk meraih posisi staf permanen. Mengantisipasi kurangnya lowongan di swasta untuk lulusan S3, Pemerintah Jepang sempat mengeluarkan proyek 10 ribu postdoc, atau tenaga peneliti kontrak di lembaga pemerintah. Kebanyakan untuk orang asing, lowongan ini diisi oleh orang Cina atau Korea Selatan, sehingga peluang orang Indonesia sebenarnya tidak kecil, tergantung kemampuan juga.

Pada akhirnya, apa yang diutarakan pada dua tulisan ini adalah beberapa informasi yang mudah-mudahan dapat menghilangkan “keangkeran” Jepang sebagai negara pilihan pendidikan luar negeri. Hal-hal yang bersifat administratif seperti mendapatkan visa dan sebagainya dapat diperoleh dari Kedutaan Besar Jepang. Tak disangkal, akan banyak tantangan dan halangan ketika kita dihadapkan langsung dengan permasalahan keseharian. Dengan optimisme, usaha keras dan doa kepada Yang Maha Kuasa, kesuksesan akan menanti Anda. Semoga bermanfaat (By:Arief B)

7 Responses to “Sekolah ke Jepang (2)”

  1. realylife Says:

    makasih ya , kontaknya sudah saya terima
    ayo pasang dan comot logo baru bloggersumut di
    bloggersumut.net

  2. Myryani Says:

    thx atas infonya….

  3. ryan Says:

    good luck yah

  4. siti halimah Says:

    siti halimah, SS
    jurusan bahasa jepang
    mau minta info tentang beasiswa di jepang tolong beritahu yah ,terima kasih banyak
    hubungi 081310219007

  5. realylife Says:

    wait and wait new posting

  6. Fauzi Says:

    nice info….sangat membntu bagi mereka yang ingin bersekolah di jepang tapi kena kendala biaya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: