Membuka Gerbang ICT Dunia

Juni 4, 2008

source: detik.com

Sudah pasti, Indonesia — yang berpenduduk 220 juta jiwa dan tersebar di 17 ribu pulau — menjadi lahan bisnis yang potensial bagi industri teknologi komunikasi informasi (ICT). Namun sayangnya, posisi Indonesia selama ini baru sekadar penikmat, belum sebagai penghasil industri.
Bila dibandingkan dengan negara lain, Indonesia bisa dianggap ketinggalan, misalnya saja dari Vietnam. Pasalnya, negara yang tadinya jauh tertinggal dibanding Indonesia, justru lebih dipercaya vendor besar seperti Intel untuk membangun pabriknya. Tak tanggung-tanggung, US$ 3 miliar digelontorkan.

Tentu saja hal itu membuat iri banyak pihak, khususnya S.D. Darmono. Sebagai Presiden Director Jababeka, ia ingin sekali vendor-vendor besar masuk ke Indonesia dan membangun pabrik ICT di kota industri binaannya.

Demikian pula dengan Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar. Sebab, sektor ICT telah memberikan kontribusi yang cukup lumayan untuk produk domestik bruto yang mencapai 1,8%. Belum lagi ada jargon, setiap pertumbuhan sektor ICT 1% diyakini bisa menggerakan pertumbuhan ekonomi sebesar 3%.

Kedatangan dua pembesar ICT dunia ke Tanah Air, Bill Gates dari Microsoft dan Craig Barret dari Intel, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk membuka gerbang ICT dunia masuk ke Indonesia. Namun sayangnya, hal itu belum bisa diwujudkan. Kedua orang besar itu tadi datang bukan dengan misi bangun pabrik.

Penulis sempat berbincang dengan perwakilan Intel di Indonesia. Katanya, bangun pabrik bukan solusi buat Indonesia, melainkan menumbuhkan kemampuan SDM lokal. Paling banter, Intel dengan Indonesia cuma bisa kerjasama pusat riset.

Oleh Hewlett-Packard juga, Indonesia juga belum dimasukan ke dalam daftar singgah bangun pabrik vendor itu. Kali ini, faktor distribusi dijadikan alasan untuk tidak bangun pabrik.

Kalau cuma pusat riset, Indonesia melalui Jababeka sudah menjalin kerjasama dengan pemerintah Korea Selatan. Menkominfo Mohammad Nuh berharap akan ada kerjasama sejenis dari negara lainnya.

“Mestinya kalau pemerintah pintar, sehabis Korea, undang juga dong negara lain, seperti Jepang, Jerman, Prancis. Contohnya saja Singapura, mereka undang tiap negara berbeda. Tiap negara dipanas-panasi untuk memberikan sumbangan teknologi ke sebuah politeknik, akhirnya banyak politeknik negara. Setelah semuanya sudah nyumbang gratis. Jadilah Nangyang University,” kata Dharmono.

Ya lagi-lagi SDM lokal yang jadi kendala, saya mengajak temen-temen untuk benar2 belajar dan selalu mengasah kemampuan akademik maupun non akademik. Karena hanya dengan itulah kita dapat berkembang dan dapat disejajarkan dengan negara-negara lain, hilangkan sikap malas cobalah untuk menjadi yang terbaik. Kapan lagi kalo nggak sekarang…… (mencoba memotivasi diri sendir he..he..hešŸ˜€ )

Nb:dikutip dari detiknet disunting oleh yogie-mep

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: