Selamat Jalan GUS DUR

Desember 30, 2009

Inalillahi wa Inailaihi Rojiun, selamat jalan Gus Dur, selamat jalan bapak bangsa..  semoga amal ibadah dan karya2 mu untuk negeri ini membawa berkah dan mendapatkan balasan yang setimpal dari Alloh swt.. amin ya robbal alamin

Lapy Qu Compaq 510

Desember 30, 2009

Alhamdulillah, sudah lama aku inginkan untuk memiliki sebuah mainan baruu.. yang ku pilih Laptop HP Compaq 510, ya lumayan lah untuk kebutuhanku sehari-hari… semoga membawa berkah dan menjadikanku lebih produktif dan terus berkreasi dengan nya…🙂

Menjelang 2010

Desember 30, 2009

Apa yang akan kamu lakukan di tahun depan tahun 2010……

Tulisan ini dibuat menjelang akhir tahun 2009…….

Sekolah ke Jepang (2)

September 4, 2008

Pada begian kedua ini penulis akan menyampaikan dua subjudul yang merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Dua subjudul di bawah ini berkaitan dengan kiat-kiat hidup selama studi di Jepang dan mencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Kiat-kiat hidup

Biaya hidup, mungkin bagian yang paling menjadi pertanyaan bagi calon mahasiswa Indonesia di Jepang. Untuk lulusan SMA yang ingin mengambil program S1 di Jepang, beasiswa dari Indonesia tak begitu banyak seperti dari Monbusho maupun perusahaan Jepang walau sangat terbatas. Untuk program S2 dan S3, kondisinya sama saja, hanya ada kemungkinan mendapatkan sponsor yang diusahakan oleh Professor pembimbing. Namun bila Anda beruntung memiliki cukup uang sebagai modal awal serta “keberanian”, rasanya peluang untuk merasakan pendidikan tinggi di Jepang bukan hal mustahil. Penulis menyaksikan, ribuan mahasiswa Cina hanya dengan modal itu, setiap tahun membanjiri universitas-universitas di Jepang.

Modal awal ini diperlukan untuk biaya hidup di tahun awal. Selanjutnya, kita dapat berkompetisi mendapatkan beasiswa dari perusahaan Jepang yang sangat banyak namun hanya dapat didaftar ketika sudah di Jepang. Beasiswa itu bermacam-macam, ada yang spesifik untuk bidang tertentu misalnya untuk mahasiswa jurusan Kimia karena dari perusahaan penghasil alat laboratorium kimia ataupun untuk mahasiswa asing dari negara tertentu karena perusahaan itu memiliki cabang di negara tersebut.

Menurut pengamatan penulis ketika menjadi Ketua Bidang Ilmiah-Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang, dari segi prestasi, mahasiswa Indonesia tidak kalah dari mahasiswa asing lainnya, selain itu karena jumlahnya relatif masih sedikit, peluang mendapatkan beasiswa semacam ini cukup besar. Bila biaya hidup besarnya diperkirakan kurang lebih 80 ribu yen per-bulan, maka minimal modal yang dipersiapkan cukup untuk 1-2 tahun plus biaya sekolah. Masih terasa besar bagi kebanyakan rakyat Indonesia, tapi bila dihitung dari hasil yang kelak diperoleh selepas studi, misal kesempatan kerja di Jepang (lulusan S1, minimal mengantongi gaji 150 ribu yen/bulan masih ditambah bonus), jumlah ini bukan menakutkan bila dibarengi oleh “keberanian” dan tentu saja usaha keras.

Tidak seperti di Jerman misalnya, biaya sekolah di Jepang bukan gratis. Ada SPP per-semester, selain juga “uang masuk” untuk program S1 maupun S2 yang digabung dengan S3 (artinya kalau melanjutkan ke S3 dari S2 di Universitas yang sama, tidak perlu membayar lagi). Akan tetapi, bagi mahasiswa berprestasi dengan kondisi keuangan tak mencukupi, bagi universitas negeri, terbuka peluang besar mendapatkan keringanan SPP sebesar 50% atau 100%. Bagi universitas swasta, ada juga keringanan tapi tak sebesar itu.

Untuk menutupi biaya hidup ini, Pemerintah Jepang juga memperbolehkan mahasiswa asing bekerja sambilan dalam waktu yang ditentukan. Pekerjaan-pekerjaan yang sering digolongkan “kasar” oleh orang Jepang seperti mencuci piring di restoran, mengangkat barang dalam kegiatan pameran, mengatur arus lalu lintas dalam pekerjaan jalan, dan sebagainya, bisa diperoleh tanpa keterampilan khusus serta kemampuan bahasa. Pekerjaan seperti ini hampir tersedia di seluruh wilayah Jepang. Sementara itu, bila ada kemampuan khusus seperti pemrograman komputer, kemahiran bahasa Jepang untuk menjadi penerjemah, gaji pun akan meningkat tajam walaupun kadang lowongan kerja seperti ini hanya tersedia di kota-kota besar. Akan tetapi intinya, kalau kita bersedia kerja keras dan bersimbah berkeringat, masalah dana bukan hal besar yang bisa menghambat tekad belajar itu.

Selain masalah dana, adaptasi terhadap kehidupan Jepang tak jarang menjadi kendala kelancaran studi. Masyarakat Jepang secara umum sangat respek terhadap mahasiswa asing baik dalam kebudayaan maupun kepercayaan yang dibawanya. Dengan menjelaskan bahwa sebagai Muslim, kita tidak meminum alkohol atau memakan makanan haram, penulis sering menemukan Professor maupun Universitas bersedia menyediakan menu sendiri dalam pertemuan umum yang lazim menghidangkan makanan seperti itu. Bahkan tak jarang, kita diingatkan akan kepercayaan kita sendiri seperti mematuhi larangan agama, ibadah dan sebagainya.

Akan tetapi, kita dituntut pula untuk mengikuti tata tertib masyarakat Jepang. Seperti pepatah Indonesia, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, masyarakat Jepang memiliki peribahasa yang serupa. Tata tertib seperti tepat waktu, menjaga kebersihan, kedisiplinan serta kejujuran itu justru akan membawa kebaikan kepada mahasiswa Indonesia sendiri nantinya.

Tak kalah penting, adalah menjaga silaturahim dengan sesama orang Indonesia. Sudah menjadi sunatan takdir, orang asing di perantauan menjadi kesepian dan ingin teman sebangsa untuk membagi keluh-kesah, pahit-getir pengalaman keseharian. Keberadaan pertemuan komunitas orang Indonesia di Jepang sudah sangat banyak, juga pertemuan internet melalui mailing list. Hal itu bila dimanfaatkan akan dapat menghilangkan stress dan proses adaptasi.

Mencari kerja

Setelah sukses menyelesaikan studi, tahapan mencari kerja menjadi penting bagi seorang mahasiswa. Seperti disinggung di bagian pertama, peluang kerja di Indonesia, sangat terbuka. Kemampuan bahasa, pengalaman hidup berinteraksi dengan masyarakat Jepang serta bekal akademis dan ketrampilan pada bidangnya, akan menjadi bekal besar yang bermanfaat. Sementara itu, mencari pekerjaan di Jepang sendiri bukanlah hal yang terlalu sulit. Faktor ikatan yang kuat antara Professor pembimbing dan mahasiswanya, sangat membantu dalam usaha mencari kerja.

Sudah menjadi kebiasaan, rekomendasi Professor sangat berpengaruh dalam mencari kerja di perusahaan. Biasanya, setahun sebelum lulus, mahasiswa di Universitas Jepang sudah mulai mencari kerja. Aktivitas ini didukung penuh oleh Universitas yang ikut mencarikan lowongan serta Professor pembimbing dengan memberikan rekomendasi dan lain-lain. Sehingga begitu selesai di bulan Maret, April bulan berikutnya rata-rata mahasiswa sudah memiliki tempat bekerja. Mungkin agak unik kondisi di perusahaan Jepang, bila Anda berniat bekerja di perusahaan swasta, pendidikan S1 maupun S2 sudah cukup, tak perlu sampai S3.

Bila Anda mahasiswa S3, maka pekerjaan-pekerjaan yang bersifat spesifik sesuai dengan keahlian, menanti Anda baik di lembaga penelitian swasta, pemerintah, universitas dan sebagainya. Walaupun lowongan untuk perusahaan swasta relatif kecil dibanding jenjang akademik yang lebih rendah, tapi di universitas atau lembaga penelitian pemerintah, peluang cukup besar. Biasanya pekerjaan sebagai peneliti ini bersifat kontrak namun dapat diperpanjang atau menjadi pijakan untuk meraih posisi staf permanen. Mengantisipasi kurangnya lowongan di swasta untuk lulusan S3, Pemerintah Jepang sempat mengeluarkan proyek 10 ribu postdoc, atau tenaga peneliti kontrak di lembaga pemerintah. Kebanyakan untuk orang asing, lowongan ini diisi oleh orang Cina atau Korea Selatan, sehingga peluang orang Indonesia sebenarnya tidak kecil, tergantung kemampuan juga.

Pada akhirnya, apa yang diutarakan pada dua tulisan ini adalah beberapa informasi yang mudah-mudahan dapat menghilangkan “keangkeran” Jepang sebagai negara pilihan pendidikan luar negeri. Hal-hal yang bersifat administratif seperti mendapatkan visa dan sebagainya dapat diperoleh dari Kedutaan Besar Jepang. Tak disangkal, akan banyak tantangan dan halangan ketika kita dihadapkan langsung dengan permasalahan keseharian. Dengan optimisme, usaha keras dan doa kepada Yang Maha Kuasa, kesuksesan akan menanti Anda. Semoga bermanfaat (By:Arief B)

Pengaruh Islam Pada Europa

September 3, 2008

Pengaruh Islam Pada Europa

Assalamualaikum wr.wbPermusuhan gereja pada ilmu dan ilmuwan pada waktu itu menyebabkan Eropa tenggelam pada kebodohan dan keterbelakangan. Ilmuwan, filosof, dan para pemikir mendapat perlakuan kejam dan sadis, bila pendapat dan pemikirannya berseberangan dengan Gereja. Galileo misalnya, harus mati secara mengenaskan karena pemikirannya dianggap berlawanan dengan Gereja. Dan masih banyak lagi ilmuwan yang nasibnya serupa.

Lalu Islam datang dengan membawa peradaban dan kebudayaan yang mendorong kemajuan. Seperti menanam pohon dalam tanah subur, peradaban dan kebudayaan ini mengalami kemajuan yang cepat dan menakjubkan. Islam berdiri kokoh di bumi Andalusia. Hal ini disebabkan, Islam memberikan kebebasan bagi akal untuk mengkaji dan meneliti demi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia. Masyarakat diberikan kebebasan untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu.

Para filsuf Islam mentransferkan ilmu filsafat, kedokteran, astronomi, matematika, dan sastra ke Eropa. Ilmuwan Muslim menggoreskan langkah maju dan sumbangsih mereka bagi kebangkitan pemikiran Eropa. Membawa Eropa pada kemajuan dan Renaisans. Era Daulah Utsmaniah dan Abbasiah, mendorong gerakan penerjemahan warisan keilmuwan Yunani ke bahasa Arab. Dari bahasa Arab ke bahasa Latin, dan selanjutnya mentransfer ke Eropa melalui futahat Islam, terutama Andalusia.

Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Abu Qasim Al-Qurthubi, Ibnu Zuhur Al-Asyibili, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Al-Khwarizmi, Ar-Razi, Bizajani, Ibnu Haitsam, Ibnu Nafis, adalah sederatan ilmuwan Muslim yang berkat kejeniusannya dan kebrilianannya yang dianugerahkan Allah kepada mereka, mampu memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Ibnu sina (980-1037M) misalnya, ahli dalam filsafat, kedokteran, politik, dan astronomi. Ia membuat alat untuk mengamati ruang angkasa. Bukunya, diterjemahkan ke pelbagai bahasa di Barat dan mencapai lebih dari 270 buku. Buku bidang filsafatnya yang terkenal, Asy-Syifa’a dan Al-Qanun bidang kedokteran. Ma’rifat pada Allah SWT dan tenggelam dalam dzikir adalah tujuan filsafat menurutnya. Buku kedokterannya menjadi referensi penting kedokteran selama enam abad dan menjadi salah satu pondasi terpenting bagi kajian-kajian kedokteran di universitas-universitas di Perancis dan Italia hingga abad delapan belas. (Khadar, 2005 : 43).

Buku merupakan media pewarisan peradaban. Ilmu pengetahuan dari tokoh masa kini maupun terdahulu diwariskan melalui media ini. Untuk mengetahui dan memahami warisan peradaban, diperlukan pengalihbahasaan sesuai dengan bahasa yang berkepentingan, maka dilakukanlah penerjemahan-penerjemahan.

Jasa Islam yang begitu besar bagi kemajuan Eropa tak membuat mereka merasa berhutang, melainkan membuat mereka iri hati dan benci, yang sampai sekarang kebenciannya masih terasa. Majunya peradaban Islam di segala bidang, justru menambah benci musuh-musuh Islam. Citra palsu tentang Islam pun diangkatnya. Karakteristik dan nilai dasar Islam diputarbalikan. Citra buruk Islam ini dipasarkan pada warga Barat supaya mereka tidak berempati terhadap Islam yang ujung-ujungnya bertambah benci. Hal ini terus berlanjut sampai anak keturunan mereka. Beberapa pastur dan pendeta beralih jadi misionaris professional dan orientalis.

Adu domba antara Iran dan Iraq, penyerangan terhadap Afghanistan dan Iraq oleh tentara sekutu Amerika, pemberian label teroris pada Islam dan umat Islam, pendudukan tanah Palestina oleh Israel yang dibantu oleh Amerika dan masih banyak lagi, merupakan manifestasi kontemporer kebencian Barat pada Islam. Wallahu a’lam bishshawwab.

Islam ternyata memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan Eropa (baca : Barat). Mengubah masa kegelapan, kebodohan, dan perbudakan pada cahaya dan ilmu pengetahuan era Renaisans. Andalusia dan Cordova merupakan jalur transformasi ke arah perubahan itu. Tanpa peran Islam dan umat Islam, entah seperti apa masa depan peradaban Eropa dahulu dan sekarang. Lalu bagaimana sikap mereka terhadap Islam dan umat Islam yang telah mengangkat mereka pada ‘derajat’ yang tinggi dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi?

MARTABE (Marsipature Hutanabe)

September 1, 2008

Di samping itu kami membuat konsep Rekomendasi pada halaman 1 s.d. 21 sebagai saran pendekatan kebudayaan dalam melaksanakan pembangunan di Sumatera Utara. Saya menyumbangkan Sub Bab 2: Pembangunan Sebagai Horja. Hotman M. Siahaan d Baca entri selengkapnya »