Selamat Jalan GUS DUR

Desember 30, 2009

Inalillahi wa Inailaihi Rojiun, selamat jalan Gus Dur, selamat jalan bapak bangsa..  semoga amal ibadah dan karya2 mu untuk negeri ini membawa berkah dan mendapatkan balasan yang setimpal dari Alloh swt.. amin ya robbal alamin

Lapy Qu Compaq 510

Desember 30, 2009

Alhamdulillah, sudah lama aku inginkan untuk memiliki sebuah mainan baruu.. yang ku pilih Laptop HP Compaq 510, ya lumayan lah untuk kebutuhanku sehari-hari… semoga membawa berkah dan menjadikanku lebih produktif dan terus berkreasi dengan nya… 🙂

Menjelang 2010

Desember 30, 2009

Apa yang akan kamu lakukan di tahun depan tahun 2010……

Tulisan ini dibuat menjelang akhir tahun 2009…….

Sekolah ke Jepang (2)

September 4, 2008

Pada begian kedua ini penulis akan menyampaikan dua subjudul yang merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Dua subjudul di bawah ini berkaitan dengan kiat-kiat hidup selama studi di Jepang dan mencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

Kiat-kiat hidup

Biaya hidup, mungkin bagian yang paling menjadi pertanyaan bagi calon mahasiswa Indonesia di Jepang. Untuk lulusan SMA yang ingin mengambil program S1 di Jepang, beasiswa dari Indonesia tak begitu banyak seperti dari Monbusho maupun perusahaan Jepang walau sangat terbatas. Untuk program S2 dan S3, kondisinya sama saja, hanya ada kemungkinan mendapatkan sponsor yang diusahakan oleh Professor pembimbing. Namun bila Anda beruntung memiliki cukup uang sebagai modal awal serta “keberanian”, rasanya peluang untuk merasakan pendidikan tinggi di Jepang bukan hal mustahil. Penulis menyaksikan, ribuan mahasiswa Cina hanya dengan modal itu, setiap tahun membanjiri universitas-universitas di Jepang.

Modal awal ini diperlukan untuk biaya hidup di tahun awal. Selanjutnya, kita dapat berkompetisi mendapatkan beasiswa dari perusahaan Jepang yang sangat banyak namun hanya dapat didaftar ketika sudah di Jepang. Beasiswa itu bermacam-macam, ada yang spesifik untuk bidang tertentu misalnya untuk mahasiswa jurusan Kimia karena dari perusahaan penghasil alat laboratorium kimia ataupun untuk mahasiswa asing dari negara tertentu karena perusahaan itu memiliki cabang di negara tersebut.

Menurut pengamatan penulis ketika menjadi Ketua Bidang Ilmiah-Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang, dari segi prestasi, mahasiswa Indonesia tidak kalah dari mahasiswa asing lainnya, selain itu karena jumlahnya relatif masih sedikit, peluang mendapatkan beasiswa semacam ini cukup besar. Bila biaya hidup besarnya diperkirakan kurang lebih 80 ribu yen per-bulan, maka minimal modal yang dipersiapkan cukup untuk 1-2 tahun plus biaya sekolah. Masih terasa besar bagi kebanyakan rakyat Indonesia, tapi bila dihitung dari hasil yang kelak diperoleh selepas studi, misal kesempatan kerja di Jepang (lulusan S1, minimal mengantongi gaji 150 ribu yen/bulan masih ditambah bonus), jumlah ini bukan menakutkan bila dibarengi oleh “keberanian” dan tentu saja usaha keras.

Tidak seperti di Jerman misalnya, biaya sekolah di Jepang bukan gratis. Ada SPP per-semester, selain juga “uang masuk” untuk program S1 maupun S2 yang digabung dengan S3 (artinya kalau melanjutkan ke S3 dari S2 di Universitas yang sama, tidak perlu membayar lagi). Akan tetapi, bagi mahasiswa berprestasi dengan kondisi keuangan tak mencukupi, bagi universitas negeri, terbuka peluang besar mendapatkan keringanan SPP sebesar 50% atau 100%. Bagi universitas swasta, ada juga keringanan tapi tak sebesar itu.

Untuk menutupi biaya hidup ini, Pemerintah Jepang juga memperbolehkan mahasiswa asing bekerja sambilan dalam waktu yang ditentukan. Pekerjaan-pekerjaan yang sering digolongkan “kasar” oleh orang Jepang seperti mencuci piring di restoran, mengangkat barang dalam kegiatan pameran, mengatur arus lalu lintas dalam pekerjaan jalan, dan sebagainya, bisa diperoleh tanpa keterampilan khusus serta kemampuan bahasa. Pekerjaan seperti ini hampir tersedia di seluruh wilayah Jepang. Sementara itu, bila ada kemampuan khusus seperti pemrograman komputer, kemahiran bahasa Jepang untuk menjadi penerjemah, gaji pun akan meningkat tajam walaupun kadang lowongan kerja seperti ini hanya tersedia di kota-kota besar. Akan tetapi intinya, kalau kita bersedia kerja keras dan bersimbah berkeringat, masalah dana bukan hal besar yang bisa menghambat tekad belajar itu.

Selain masalah dana, adaptasi terhadap kehidupan Jepang tak jarang menjadi kendala kelancaran studi. Masyarakat Jepang secara umum sangat respek terhadap mahasiswa asing baik dalam kebudayaan maupun kepercayaan yang dibawanya. Dengan menjelaskan bahwa sebagai Muslim, kita tidak meminum alkohol atau memakan makanan haram, penulis sering menemukan Professor maupun Universitas bersedia menyediakan menu sendiri dalam pertemuan umum yang lazim menghidangkan makanan seperti itu. Bahkan tak jarang, kita diingatkan akan kepercayaan kita sendiri seperti mematuhi larangan agama, ibadah dan sebagainya.

Akan tetapi, kita dituntut pula untuk mengikuti tata tertib masyarakat Jepang. Seperti pepatah Indonesia, “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, masyarakat Jepang memiliki peribahasa yang serupa. Tata tertib seperti tepat waktu, menjaga kebersihan, kedisiplinan serta kejujuran itu justru akan membawa kebaikan kepada mahasiswa Indonesia sendiri nantinya.

Tak kalah penting, adalah menjaga silaturahim dengan sesama orang Indonesia. Sudah menjadi sunatan takdir, orang asing di perantauan menjadi kesepian dan ingin teman sebangsa untuk membagi keluh-kesah, pahit-getir pengalaman keseharian. Keberadaan pertemuan komunitas orang Indonesia di Jepang sudah sangat banyak, juga pertemuan internet melalui mailing list. Hal itu bila dimanfaatkan akan dapat menghilangkan stress dan proses adaptasi.

Mencari kerja

Setelah sukses menyelesaikan studi, tahapan mencari kerja menjadi penting bagi seorang mahasiswa. Seperti disinggung di bagian pertama, peluang kerja di Indonesia, sangat terbuka. Kemampuan bahasa, pengalaman hidup berinteraksi dengan masyarakat Jepang serta bekal akademis dan ketrampilan pada bidangnya, akan menjadi bekal besar yang bermanfaat. Sementara itu, mencari pekerjaan di Jepang sendiri bukanlah hal yang terlalu sulit. Faktor ikatan yang kuat antara Professor pembimbing dan mahasiswanya, sangat membantu dalam usaha mencari kerja.

Sudah menjadi kebiasaan, rekomendasi Professor sangat berpengaruh dalam mencari kerja di perusahaan. Biasanya, setahun sebelum lulus, mahasiswa di Universitas Jepang sudah mulai mencari kerja. Aktivitas ini didukung penuh oleh Universitas yang ikut mencarikan lowongan serta Professor pembimbing dengan memberikan rekomendasi dan lain-lain. Sehingga begitu selesai di bulan Maret, April bulan berikutnya rata-rata mahasiswa sudah memiliki tempat bekerja. Mungkin agak unik kondisi di perusahaan Jepang, bila Anda berniat bekerja di perusahaan swasta, pendidikan S1 maupun S2 sudah cukup, tak perlu sampai S3.

Bila Anda mahasiswa S3, maka pekerjaan-pekerjaan yang bersifat spesifik sesuai dengan keahlian, menanti Anda baik di lembaga penelitian swasta, pemerintah, universitas dan sebagainya. Walaupun lowongan untuk perusahaan swasta relatif kecil dibanding jenjang akademik yang lebih rendah, tapi di universitas atau lembaga penelitian pemerintah, peluang cukup besar. Biasanya pekerjaan sebagai peneliti ini bersifat kontrak namun dapat diperpanjang atau menjadi pijakan untuk meraih posisi staf permanen. Mengantisipasi kurangnya lowongan di swasta untuk lulusan S3, Pemerintah Jepang sempat mengeluarkan proyek 10 ribu postdoc, atau tenaga peneliti kontrak di lembaga pemerintah. Kebanyakan untuk orang asing, lowongan ini diisi oleh orang Cina atau Korea Selatan, sehingga peluang orang Indonesia sebenarnya tidak kecil, tergantung kemampuan juga.

Pada akhirnya, apa yang diutarakan pada dua tulisan ini adalah beberapa informasi yang mudah-mudahan dapat menghilangkan “keangkeran” Jepang sebagai negara pilihan pendidikan luar negeri. Hal-hal yang bersifat administratif seperti mendapatkan visa dan sebagainya dapat diperoleh dari Kedutaan Besar Jepang. Tak disangkal, akan banyak tantangan dan halangan ketika kita dihadapkan langsung dengan permasalahan keseharian. Dengan optimisme, usaha keras dan doa kepada Yang Maha Kuasa, kesuksesan akan menanti Anda. Semoga bermanfaat (By:Arief B)

Pengaruh Islam Pada Europa

September 3, 2008

Pengaruh Islam Pada Europa

Assalamualaikum wr.wbPermusuhan gereja pada ilmu dan ilmuwan pada waktu itu menyebabkan Eropa tenggelam pada kebodohan dan keterbelakangan. Ilmuwan, filosof, dan para pemikir mendapat perlakuan kejam dan sadis, bila pendapat dan pemikirannya berseberangan dengan Gereja. Galileo misalnya, harus mati secara mengenaskan karena pemikirannya dianggap berlawanan dengan Gereja. Dan masih banyak lagi ilmuwan yang nasibnya serupa.

Lalu Islam datang dengan membawa peradaban dan kebudayaan yang mendorong kemajuan. Seperti menanam pohon dalam tanah subur, peradaban dan kebudayaan ini mengalami kemajuan yang cepat dan menakjubkan. Islam berdiri kokoh di bumi Andalusia. Hal ini disebabkan, Islam memberikan kebebasan bagi akal untuk mengkaji dan meneliti demi kemajuan ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia. Masyarakat diberikan kebebasan untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu.

Para filsuf Islam mentransferkan ilmu filsafat, kedokteran, astronomi, matematika, dan sastra ke Eropa. Ilmuwan Muslim menggoreskan langkah maju dan sumbangsih mereka bagi kebangkitan pemikiran Eropa. Membawa Eropa pada kemajuan dan Renaisans. Era Daulah Utsmaniah dan Abbasiah, mendorong gerakan penerjemahan warisan keilmuwan Yunani ke bahasa Arab. Dari bahasa Arab ke bahasa Latin, dan selanjutnya mentransfer ke Eropa melalui futahat Islam, terutama Andalusia.

Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Abu Qasim Al-Qurthubi, Ibnu Zuhur Al-Asyibili, Ibnu Rusyd, Ibnu Khaldun, Al-Khwarizmi, Ar-Razi, Bizajani, Ibnu Haitsam, Ibnu Nafis, adalah sederatan ilmuwan Muslim yang berkat kejeniusannya dan kebrilianannya yang dianugerahkan Allah kepada mereka, mampu memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

Ibnu sina (980-1037M) misalnya, ahli dalam filsafat, kedokteran, politik, dan astronomi. Ia membuat alat untuk mengamati ruang angkasa. Bukunya, diterjemahkan ke pelbagai bahasa di Barat dan mencapai lebih dari 270 buku. Buku bidang filsafatnya yang terkenal, Asy-Syifa’a dan Al-Qanun bidang kedokteran. Ma’rifat pada Allah SWT dan tenggelam dalam dzikir adalah tujuan filsafat menurutnya. Buku kedokterannya menjadi referensi penting kedokteran selama enam abad dan menjadi salah satu pondasi terpenting bagi kajian-kajian kedokteran di universitas-universitas di Perancis dan Italia hingga abad delapan belas. (Khadar, 2005 : 43).

Buku merupakan media pewarisan peradaban. Ilmu pengetahuan dari tokoh masa kini maupun terdahulu diwariskan melalui media ini. Untuk mengetahui dan memahami warisan peradaban, diperlukan pengalihbahasaan sesuai dengan bahasa yang berkepentingan, maka dilakukanlah penerjemahan-penerjemahan.

Jasa Islam yang begitu besar bagi kemajuan Eropa tak membuat mereka merasa berhutang, melainkan membuat mereka iri hati dan benci, yang sampai sekarang kebenciannya masih terasa. Majunya peradaban Islam di segala bidang, justru menambah benci musuh-musuh Islam. Citra palsu tentang Islam pun diangkatnya. Karakteristik dan nilai dasar Islam diputarbalikan. Citra buruk Islam ini dipasarkan pada warga Barat supaya mereka tidak berempati terhadap Islam yang ujung-ujungnya bertambah benci. Hal ini terus berlanjut sampai anak keturunan mereka. Beberapa pastur dan pendeta beralih jadi misionaris professional dan orientalis.

Adu domba antara Iran dan Iraq, penyerangan terhadap Afghanistan dan Iraq oleh tentara sekutu Amerika, pemberian label teroris pada Islam dan umat Islam, pendudukan tanah Palestina oleh Israel yang dibantu oleh Amerika dan masih banyak lagi, merupakan manifestasi kontemporer kebencian Barat pada Islam. Wallahu a’lam bishshawwab.

Islam ternyata memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan Eropa (baca : Barat). Mengubah masa kegelapan, kebodohan, dan perbudakan pada cahaya dan ilmu pengetahuan era Renaisans. Andalusia dan Cordova merupakan jalur transformasi ke arah perubahan itu. Tanpa peran Islam dan umat Islam, entah seperti apa masa depan peradaban Eropa dahulu dan sekarang. Lalu bagaimana sikap mereka terhadap Islam dan umat Islam yang telah mengangkat mereka pada ‘derajat’ yang tinggi dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi?

MARTABE (Marsipature Hutanabe)

September 1, 2008

Di samping itu kami membuat konsep Rekomendasi pada halaman 1 s.d. 21 sebagai saran pendekatan kebudayaan dalam melaksanakan pembangunan di Sumatera Utara. Saya menyumbangkan Sub Bab 2: Pembangunan Sebagai Horja. Hotman M. Siahaan d Baca entri selengkapnya »

Menikmati kota Pematangsiantar yang berhawa sejuk akan memberikan ribuan impian dengan letak yang strategis pada jalur lintasan dari Medan (ibukota Propinsi Sumatera Utara), yang dapat ditempuh ± 3 1/2 jam perjalanan menuju kota wisata Parapat dan Danau Toba serta sekaligus merupakan perantara antara kota-kota di wilayah pantai timur dengan berbagai kota di wilayah dataran tinggi dan pantai barat Sumatera Utara.

Kota Pematangsiantar dengan letaknya yang strategis menambah dinamika kehidupan di kota yang berpenduduk hampir seperempat juta jiwa ini. Keaneka ragaman agama dan sosial budaya mutlak dipertimbangkan dalam merumuskan program pembangunan dalam memelihara ketertiban, kemanan, kerukunan antar umat beragama dan kerja sama antar etnis.

BAGI para penggemar otomotif antik, sepeda motor yang digunakan sebagai alat penggerak transportasi angkutan roda tiga (becak) di Kota Pematang Siantar, Sumatera Utara, bisa jadi “menggelitik” keinginan untuk mengoleksi. Sepeda motor BSA buatan Inggris, yang-menurut penduduk setempatdijadikan alat berperang oleh tentara Inggris di Jawa pada Perang Dunia II,
menjadi collector items yang menarik. Selain langka, rata-rata usia motor 60 tahun. Motor yang saat ini berjumlah sekitar 200 unit itu ada yang dibuat tahun 1941, 1948, 1952, dan yang lebih “gres” buatan tahun 1956. Becak di Kota Pematang Siantar yang luas wilayahnya 79,97 kilometer persegi ini memang berbeda dengan becak di kota-kota lain. Berada pada ketinggian 400 meter di atas permukaan laut dengan permukaan tanah yang berbukit-bukit, menyebabkan jalan-jalan di kota ini menurun dan mendaki. Dengan kondisi seperti ini becak dayung sulit digunakan. Akhirnya kendaraan roda tiga itu dimodifikasi dengan “menempelkan” sepeda motor BSA di sisi kanan becak sebagai tenaga penggerak. Becak bermotor yang dijadikan alat transportasi sejak tahun 1960-an ini kemudian menjadi ciri khas dan daya tarik bagi wisatawan, meskipun saat ini berangsur-angsur tersingkir oleh mobil penumpang (mopen) yangberoperasi hingga larut malam.

Pematang Siantar yang tahun 1970-an mendapat julukan sebagai kota pelajar di Provinsi Sumatera Utara, jumlah sekolah dari SD sampai Perguruan Tinggi semakin meningkat diharapkan mampu memenuhi SDM daerah lebih progressif dan maksimal dengan tersedianya sumber daya dan potensi yang tersedia yang dapat memajukan Pematang Siantar dan Kabupaten simalungun menjadi lebih baik. Masalah kelistrikan dan Infrastruktur merupakan masalah yang sangat penting, seringnya pemadaman listrik menjadi faktor penghambat perkembangan perekonomian di daerah ini. Infrastruktur jalan-jalan menuju kedaerah maupun sarana umum lainya dirasakan masih sangat tertinggal. Kinerja aparat Pemerintahan  yang buruk menjadi faktor utama kemunduran di daerah ini, KKN menjadi virus yang sangat bahaya yang menjakiti para birokrat yang ada diPemerintahan. Perombakan, penggantian system serta aparat nya dapat membantu kebuntuan perkembangannya. Di harapkan generasi muda dapat berkiprah berperan serta lebih dan lebih lagi demi kemajuan bersama.

Kota Pematang Siantar bukan hanya diingat karena keunikan becaknya. Di kota ini pada tanggal 22 Juli 1917 lahir wakil presiden ketiga di republik ini yang memiliki reputasi internasional, Adam Malik (almarhum). Dalam bidang pemerintahan, kota yang berumur 130 tahun pada tanggal 24 April 2001, pernah menerima Piala Adipura pada tahun 1993 atas kebersihan dan kelestarian lingkungan kotanya. Sementara itu, karena ketertiban pengaturan lalu lintasnya, kota ini pun meraih penghargaan Piala Wahana Tata Nugraha pada tahun 1996. Kota Pematangsiantar yang terletak pada garis 3º01’09” -2º54’40” lintang utara dan 99º6’23” – 99º1’10” Bujur Timur, berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Simalungun dengan luas 79,97 km2 dan terletak 400 meter di atas permukaan laut. Pada waktu siang atau malam hari kehidupan di kota ini sepertinya tak pernah surut dilihat dari aktivitas masyarakatnya. Dengan udaranya yang sejuk dan airnya yang bening dimana-mana, kehidupan di kota ini aman dan kondusif menghidupkan perekonomian masyarakatnya.

Dengan keadaan tersebut, kota Pematangsiantar mempunyai nilai positif tersendiri untuk berinvestasi karena disamping aman, tertib dan tentram, jumlah penduduk yang relatif banyak dan bahan baku yang mencukupi khususnya yang berasal dari daerah interland. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2000, Pematang Siantar berpenduduk 240.831 jiwa yang menjadikannya kota kedua terbesar setelah Medan, ibu kota Sumatera Utara. Penduduknya termasuk heterogen dengan 49,6 persen dari etnis Toba, 14,2 persen dari etnis Jawa dan 11,43 persen dari etnis Simalungun. Etnis lain kurang dari 10 persen masing-masing dari Melayu, Mandailing, Cina, Minang, Karo, dan lain-lain. Dari jumlah penduduk tersebut, terdapat angkatan kerja sekitar 85.000 jiwa dengan 86 persen yang bekerja. Sektor industri yang menjadi tulang punggung perekonomian kota yang terletak di tengahtengah Kabupaten Simalungun ini adalah industri besar dan sedang. Dari total kegiatan ekonomi di tahun 1999 yang mencapai Rp 1,5 trilyun, pangsa sektor industri mencapai 38 persen atau Rp 593 milyar. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyusul di urutan kedua, dengan sumbangan 22 persen atau Rp 335 milyar. Dari ketiga kegiatan di sektor ini, subsektor perdagangan memberikan pemasukan sampai Rp 300 milyar.

Hasil industri andalan Kota Pematang Siantar adalah rokok putih filter dan nonfilter serta tepung tapioka. Pada tahun 2000, dengan tenaga kerja sebanyak 2.700 orang, NV Sumatra Tobacco Trading Company (STTC), produsen rokok yang berdiri sejak 1952, menghasilkan 11,06 milyar batang rokok putih filter dan 75 juta batang rokok putih nonfilter. Dari seluruh hasil produksi rokok filter tersebut, 88,14 persen dijual ke luar negeri terutama ke Malaysia, negara-negara Timur Tengah dan Asia Timur, dengan nilai ekspor mencapai Rp 345 juta. Sisanya sebesar 11,86 persen rokok putih filter dan seluruh hasil produksi rokok putih nonfilter dijual di da-lam negeri dengan nilai penjualan mencapai Rp 83 milyar. Sementara itu, Taiwan menjadi negara tujuan penjualan tepung tapioka yang diproduksi kota ini. Tahun lalu, volume ekspor tepung tapioka mencapai 3,8 ton dan tepung Modified Starch mencapai 2,7 ton. Keseluruhan nilai penjualan ekspor kedua jenis komoditas ini mencapai Rp 12,9 milyar.

Kota Pematang Siantar yang hanya berjarak 52 km dari Prapat sering menjadi kota perlintasan bagi wisatawan yang hendak ke Danau Toba. Sebagai kota penunjang pariwisata di daerah sekitarnya, kota ini memiliki hotel berbintang, hotel melati, restoran, pusat perbelanjaan dan rekreasi sebagai sarana pendukung meningkatnya wisatwan di daerah ini.

Sekolah Ke Jepang (1)

Agustus 28, 2008

Sekolah di luar negeri terkesan “elit”. Apalagi di Jepang, negara dengan biaya hidup sangat tinggi. Belum lagi Jepang sebagai negara pilihan untuk studi di luar negeri masih “angker” dengan stereotip anggapan biaya tinggi, bahasa yang sulit dan sebagainya.

Benarkah demikian? Dalam tulisan ini, penulis mengulas beberapa keuntungan memilih Jepang sebagai tempat belajar di tingkat Universitas baik program S1, S2 dan S3 serta kiat-kiat sukses menempuh studi sekaligus mencari kerja setelah itu. Tulisan di bagi menjadi dua bagian yaitu bagian pertama dengan fokus pada keunggulan memilih studi di Jepang dan kehidupan di kampus. Sedangkan pada bagian kedua akan disampaikan tentang kiat-kiat hidup dan mencari kerja.

Keuntungan memilih Jepang

Keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) negara tujuan, sering menjadi salah satu alasan memilih tempat studi di luar negeri. Kemajuan perekonomian Jepang, tak disangkal berkat dukungan ipteknya yang canggih. Akan tetapi, Jepang tak jarang disebut sebagai “negara pengekor” dalam iptek karena lebih banyak mengembangkan iptek terapan yang dasarnya sudah dikembangkan di Amerika Serikat (AS) atau Eropa.

Akan tetapi dengan terpilihnya para peneliti Jepang sebagai penerima Hadiah Nobel tiga tahun terakhir secara berturut-turut, setidaknya menghapus pandangan itu. Penelitian dasar maupun terapan di Universitas Jepang sangat beragam dengan dukungan dana yang besar baik dari Pemerintah maupun Swasta. Apabila di Indonesia, produk riset terapan lebih dibutuhkan, maka Jepang adalah “gudang” penelitian seperti itu. Paten-paten internasional yang dimiliki Jepang lebih banyak yang berkaitan dengan teknologi terapan. Namun hal ini tidak berarti penelitian dasar kurang berkembang. Hadiah Nobel yang banyak diberikan kepada penelitian dasar, dari penghargaan tiga tahun terakhir itu, berhasil diraih oleh peneliti-peneliti Jepang dari penelitian di dalam negeri.

Suasana dan kondisi belajar juga sering menjadi penentu dalam menentukan pilihan negara studi. Untuk masalah keamanan, Jepang adalah negara dengan tingkat kriminalitas sangat rendah dibanding AS atau negara-negara Eropa pada umumnya. Budaya timur yang masih kental di Jepang, memberikan suasana yang tidak jauh berbeda bagi mahasiswa Indonesia ketika hidup dalam masyarakat Jepang sehingga memudahkan beradaptasi.

Bahasa Jepang yang sering jadi momok, bila dilihat dari kacamata berbeda, dapat memberikan nilai plus studi di Jepang. Mahasiswa S2 dan S3, tidak diharuskan menguasai bahasa Jepang karena dapat berkomunikasi maupun menyelesaikan thesis dengan bahasa Inggris. Namun setidaknya, berbekal kursus singkat yang banyak disediakan gratis oleh Universitas maupun Pemda setempat, serta pergaulan sehari-hari, mereka mampu berbahasa lisan dengan baik. Untuk mahasiswa S1, selain kemampuan bahasa lisan juga diperlukan kemampuan membaca dan menulis bahasa Jepang. Memang untuk itu ribuan huruf Kanji dan tata bahasa yang berbeda dengan bahasa Inggris, harus dikuasai.

Menurut pengalaman penulis, setengah sampai setahun kursus bahasa Jepang intensif ditambah dengan kuliah 1-2 tahun, cukup memberikan penguasaan secara baik. Kemampuan bahasa ini akan membuka peluang besar memahami berbagai ilmu pengetahuan maupun budaya Jepang karena bangsa ini telah mentransfer seluruh pengetahuannya dalam bentuk tulisan, buku dan sebagainya (Jepang adalah negara dengan pelanggan koran terbesar di dunia).

Bagi alumnus Universitas Jepang, dengan ketiga keunggulan di atas yang berhasil diraih, kesempatan mencari kerja di Jepang maupun Indonesia, sangat terbuka. Jangan lupa, Jepang adalah negara dengan penanaman modal asing terbesar di Indonesia sehingga peluang bekerja di perusahaan maupun bisnis terkait dengan negara ini, sangat menjanjikan.

Kehidupan Kampus

Untuk menyelesaikan program studi S1 di Jepang perlu waktu 4 tahun. Tiga tahun pertama adalah perkuliahan dan tahun terakhir mahasiswa diharuskan masuk ke lab salah seorang Professor yang ada dalam jurusan untuk membuat penelitian bagi thesisnya. Untuk program S2 yang memerlukan waktu normal 2 tahun, sepenuhnya mahasiswa berada dalam lab untuk melakukan penelitian dengan tambahan beberapa mata kuliah yang harus diambil.

Dengan kerajinan dan ketekunan, hampir bisa dipastikan mahasiswa dapat selesai tepat waktu untuk S1 dan S2 ini. Program S3, mirip sistem di S2 tapi beban untuk penelitian lebih besar, dimana banyak jurusan di Universitas Jepang mewajibkan mahasiswanya menghasilkan publikasi ilmiah di jurnal internasional sebagai syarat kelulusan. Kadang, bila ada hambatan dalam penelitian menurut pengamatan penulis, lebih banyak karena kurang antisipasi kemajuan riset dan komunikasi dengan Professor pembimbing bisa menyebabkan waktu studi molor 1-2 tahun. Kewajiban publikasi ini nampaknya khas Jepang yang tak ditemui di Amerika/Eropa, walau terasa berat tapi bisa memberikan catatan dan pengalaman yang berharga bagi mahasiswa bagi bekal meniti karir setelah kelulusan.

Peran Professor pembimbing sangat besar dalam membantu kelancaran studi dalam setiap jenjang. Untuk itu, kiat utama dalam hal ini adalah mencari Professor dalam bidang yang diminati, yang paling cocok dalam kepribadian, sikap dan sebagainya. Untuk mahasiswa S1, sejak masa perkuliahan, bisa dengan mudah mencari informasi itu dari kakak kelas atau mencari langsung Professor dengan sifat-sifat seperti itu. Sementara bagi mahasiswa S2/S3 yang mencari dari Indonesia misalnya, ada beberapa ciri yang mungkin bisa jadi pegangan.

Professor dengan pengalaman belajar atau penelitian di luar negeri, biasanya menjadi lebih terbuka dan respek terhadap orang asing mungkin karena pernah mengalami sendiri tinggal di negeri orang. Professor yang masih muda usia (40-an tahun), biasanya masih dalam awal karirnya sehingga dengan menjadi anggota labnya, kemungkinan mahasiswa ikut dipacu untuk banyak menghasilkan publikasi, paten dan karya ilmiah lainnya, walaupun konsekuensinya hal ini harus dibarengi dengan kerja keras. Keuntungan lainnya, mahasiswa bisa mendapat bimbingan dan perhatian langsung dari Professor seperti ini karena masih banyak waktunya di lab. Sementara Professor yang lebih senior, menduduki berbagai jabatan di himpunan profesi maupun Pemerintahan, berpeluang besar memberikan banyak kemudahan mencari kerja dengan lobi-lobi yang dimilikinya serta fasilitas penelitian yang memadai. Akan tetapi, bimbingan langsung kepada mahasiswa relatif agak kurang karena kesibukan di luar labnya tersebut. Profil seperti ini bisa kita peroleh dari homepage Universitas, membaca jurnal-jurnal ilmiah, seminar dan sebagainya.

Professor-professor yang hebat, tidak harus selalu berada di universitas-universitas besar. Yang sering disebut universitas besar itu adalah Tokyo University, Osaka University, Kyoto University, Kyushu University, Tohoku University, dan Hokkaido University untuk universitas negerinya dan Keio University serta Waseda University untuk universitas swastanya. Tak pelak, dengan dana dan nama besar, universitas-universitas itu dapat mengumpulkan Professor-professor terpandang, namun tak jarang Professor “yang mendunia” berada di universitas negeri di daerah. Misalnya, pakar DNA chip Jepang adalah seorang Professor muda di Tokushima University di pulau kecil Shikoku, tokoh mikrobiologi vitamin ada di Yamaguchi University di ujung selatan pulau Honsyu, Professor senior yang disebut-sebut calon kuat penerima Hadiah Nobel Kedokteran berdomisili di Kobe University dan lain-lain. Jadi, jangan terpaku pada nama besar universitas yang hendak dipilih, tapi lihat dalam bidang yang diminati, Professor yang hebat berada di lokasi mana.

Selain informasi dari internet, publikasi dan sebagainya, bila ada kesempatan bertemu langsung dengan Professor Jepang yang sedang dalam kunjungan ke Indonesia atau dalam pertemuan internasional, manfaatkan hal itu untuk berkenalan secara langsung. Selain mengutarakan niat secara lisan, akan lebih berdampak nantinya, bila terlebih dulu mempersiapkan profil serta rencana penelitian dalam kertas. Komunikasi via e-mail maupun surat serta faksimil, akan juga berperan dalam keberhasilan mencari Professor pembimbing yang sesuai. Penggunaan bahasa Inggris yang baik, cukup tepat untuk komunikasi seperti ini, namun yang lebih penting adalah mengutarakan maksud korespondensi itu sejelas mungkin untuk menghindari kesalahpahaman.

Beberapa uraian di atas, bermanfaat ketika dalam tahapan penelitian sebagai bagian dari penyelesaian studi. Untuk tahap perkuliahan, bagi mahasiswa S1, penting untuk mencari teman Jepang yang bisa membantu dalam masalah bahasa dan kadang penyelesaian tugas juga. Walaupun kakak kelas orang Indonesia mungkin tidak selalu ada, saran dari mereka bisa dimintakan juga. Untuk program S2 dan S3, kebanyakan perkuliahan diujikan dengan membuat laporan daripada ujian tulis. Dalam hal ini, dengan permohonan kepada dosen pengajar, sering mahasiswa asing diperbolehkan membuat laporan dalam bahasa Inggris.

by:detikcom

Piranti lunak komputer yang dapat mengalihaksarakan huruf latin menjadi tulisan beraksara Batak yang disebut Transtoba2 secara resmi diluncurkan akhir pekan lalu. Acara peluncurannya berlangsung di Auditorium Universitas Sisingamangaraja XII, Jl. Perintis Kemerdekaan, Medan.

Peluncuran program transliterasi aksara Batak ini dilakukan langsung oleh penemunya Prof. DR. Uli Kozok, seorang peneliti dari Hawaii University. Kozok menyatakan, dengan menggunakan program buatannya, tulisan yang menggunakan huruf latin secara otomatis bisa diubah menjadi beraksara Batak.

“Program Transtoba2 merupakan program komputer berbasis Java, dan dapat diaplikasikan sejumlah sistem termasuk Apple OS 10.5, MS Windows dan Vista,” ujarnya.

Dia menambahkan, program Tanstoba2 tidak diperjualbelikan, melainkan ini adalah perangkat lunak bebas dibawah lisensi umum GNU dan dapat di-download dengan cuma-cuma. Transtoba2 juga dapat digunakan langsung di internet dengan mengakses transtoba2.seige.net.

Inti program Transtoba2 adalah huruf komputer (font) TrueType Surat Batak yang dikembangkan Uli Kozok serta sebuah perangkat alogaritma yang dikembangkan bersama Leander Siege dan Kozok.

Transtoba2 mengatasi permaslahan yang dihadapi peneliti, antropolog, sejarawan dan semua kalangan dalam menggunakan font Surat Batak.

“Aksara Batak bukan merupakan abjad murni, tapi sebuah Abugida atau bentuk tulisan gratem yang terdiri dari konsonan yang diikuti oleh vokal ‘a’,” terang Kozok.

Kozok juga mengatakan, aksara Batak punya keunikan yang tidak terdapat pada Abugida Nusantara lain, seperti Surat Ulu dari Kerinci, Rejang, Lampung, Lemak atau Serawai.

Hampir 95 persen naskah Batak saat ini ada di luar negeri. Sedang sisanya ada di sejumlah tempat di Sumatera Utara. “Sedikitnya lima ratus sampai seribu naskah Batak ada di sejumlah museum di Belanda. Dengan program Transtoba2 ini, kita bisa menghindari kepunahan aksara Batak,” Kozok menandaskan.